“Lagu Toba, Lagu Karo, Lagu Simalungun, Lagu Mandailing dan Lagu Angkola"

Sabtu, 28 Mei 2011

"LAPPAK, LAPUNG, SARINDAN, SIHIRPUT"

#SELAMAT PAGI TAPANULI#
(Melihat istilah-istilah tapanuli pada prilaku yang tak baik)
___________________________________________________

Para kawan....! Tentunya kita semua sepakat bahwa sitiap daerah punya istilah
terhadap semua anggota masyarakatnya yang berprilaku tak baik. Tak terkecuali
di daerahta. Istilah-istilah ini menurut hemat saya digunakan atau dipakai tidaklah
untuk membuat invidunya menjadi tidak baik, tapi sebaliknya.

Menurut hemat saya, istilah-istilah ini sering diperbandingkan dengan keadaan
suatu benda, tumbuhan atau atau pohon. "Mengapa istilah-istilah ini digunakan
dan apakah istilah ini dapat mempengarhu prilaku untuk menjadi lebih baik"
adalah hal yang mau dijawab lewat tulisan ini.

_________________________________________

Beberapa Istilah Batak Sebagai Gambaran Prilaku
_________________________________________

Para kawan...! Istilah-istilah di atas memang terdengar sepele, tapi tak
jarang istilah istilah tersebut di iringi juga dengan istilah lainnya
yang lebih kasar seperti, "bodat kho, heang kho, lappak naso marguna
tu lapa-lapai maho" ninna. Atau "Botul maho jolma naso mangirput" katanya
pula.

Terhadap penggunaan kata-kata kasar dan damfaknya pada prilaku,
Haryatmoko (2007:120) menjelaskan bahwa “… Dalam kekerasan terkandung unsur
dominasi terhadap pihak lain dalam berbagai bentuknya: fisik, verbal, moral,
psikologis atau melalui gambar…”. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa
kekerasan tidak hanya dapat ditayangkan dalam bentuk fisik seperti memukul
atau berkelahi, namun dapat dilakukan pula secara verbal seperti
kata-kata kasar.

Jadi jelas istilah-istilah ini jika  ita tidak mengontrolnya dalam
penggunaan dapat berdamfak negatif (Agresif)pada prilaku.
______________

Kesimpulan
______________

Para kawan...! Berikut yang dapat saya simpulkan :

Jika istilah lappak, lapung, sarindan atau sihirput hanya digunakan
sebagai pembanding untuk memberi gambaran betapa tidak bergunanya atau
terpujinya suatu prilaku mungkin bukan suatu masalah besar.

Tapi, jika digunakan sebagai ungkapan kekecewaan yang mendalam pada
suatu prilaku dan diiringi pula dengan istilah lainnya yang lebih
kasar dan tidak terpuji, maka jika disampaikan pada suatu anak
bisa membuat anak jadi minder, mandele atau bahkan sebaliknya lebih
agresif untuk men gadakan perlawanan.

Sedangkan jika digunakan dinamardongan, jelas itu artinya mangajak
marduel, jika digunakan diparsaripean apalagi dengan intensitas yang
tinggi, maka siapkanlah kawan pulpen karena ada yang mau ditandatangani
di mahkamah syariah sana.

Para kawan...! Selamat pagi.
_________________________________________________________
Sejak diposting sampai 21 Agustus 2012 dilihat 31 kali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar